Kamis, 30 Maret 2017

6.CONTOH SIKAP TAAT KEPADA RASUL

Dan barikut ini  contoh perilaku beriman kepada Rasul Allah swt




1. Jujur dalam segala perbuatan

2. Berkata baik dan benar kepada siapa saja dan apabila tidak bisa berkata baik, maka lebih baik diam.

3. Melaksanakan amanah dari orang tua, amanah dari guru, amanah dari orang lain, maupun amanah agama.

4. Berusaha sekuat tenaga untuk berjuang, menegakkan kebenaran dan berjuang untuk mencapai kesuksessan degan penuh kesadaran dan semangat mencari Ridha Allah swt.

5. Gemar menuntut ilmu pengetahuan agar hidupnya berkualitas

6. Gemar membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw

7. Tidak mengingkari janji

8,  Melaksanakan atau menaati risalah yang telah disampaikan oleh para rasul.

7.PENGERTIAN TAWADU DALAM SALAT

PENGERTIAN SALAT

Salat merupakan salah satu perintah Allah Swt. dan rasul-Nya yang harus kita taati. Menunaikan salat berarti menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya.Taat merupakan salah satu perilaku terpuji yang patut dimiliki oleh muslim. Dalam bab ini kita akan mempelajari beberapa perilaku terpuji dan salah satunya adalah taat. Mari kita simak uraian dalam bab ini.

A.Tawadu
1.Pengertian dan Contoh Tawadu
Tawadu artinya sikap rendah hati. Sikap ini merupakan sikap
seseorang yang tidak ingin menonjolkan diri dengan sesuatu yang ada pada dirinya. Kebaikan yang dikaruniakan Allah Swt. kepadanya baik berupa harta, kepandaian, kecantikan fisik, dan beragam karunia Allah Swt. lainnya tidak membuat dirinya lupa. Orang yang bersikap tawadu senantiasa ingat bahwa semua yang ada padanya adalah milik Allah Swt. semata. Oleh karena itu, seorang yang tawadu tidak akan menghina orang lain dengan apa pun yang diamanatkan Allah Swt. kepadanya. Cara bicara orang yang tawadu senantiasa lembut dan merendah
sekaligus memiliki rasa percaya diri yang kuat. Ia selalu berusaha berbuat yang terbaik tanpa ingin kebaikannya diketahui orang lain. Ia lebih suka menyampaikan kebaikan orang lain meskipun kebaikannya jauh lebih banyak. Tidak tersinggung apalagi
marah saat orang lain menyampaikan keburukannya kepadanya. Istigfar menghiasi bibirnya jika ada kritikan kepadanya. Bukan sebagai pemanis bibir, melainkan muncul dari hati yang merasa lalai atau tidak berhati-hati sehingga ada salah yang tanpa
sengaja ia lakukan.Sikap di atas berbeda dari rasa rendah diri. Rasa rendah diri berasal dari ketidakmampuan memandang dirinya dan orang lain dengan benar. Ketidakmampuan itu menyebabkan orang yang rendah diri salah menilai
dirinya sebagai tidak baik, tidak mampu, tidak tampan atau cantik, atau tidak pantas. Pada saat yang sama ia menilai orang lain sebagai sangat baik, sangat pandai, lebih tampan atau cantik, dan lebih pantas untuk sesuatu hal. Oleh karena itu, orang yang salah menilai diri cenderung merasa minder, tidak mampu, dan tidak percaya diri. Selain berbeda dengan rendah diri, sikap tawadu merupakan kebalikan dengan sikap sombong. Sikap sombong muncul dari kesalahan menilai diri sebagai lebih baik,
lebih mampu, lebih kaya, atau rasa lebih lainnya. Orang yang sombong merasa bahwa kelebihan yang ada padanya semata merupakan hasil kerja yang ia lakukan. Ia tidak melihat kehadiran Allah Swt. dalam kehidupan- nya. Dengan pandangan seperti itu, wajar jika orang yang sombong senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Saat ia melihat orang lain lebih dari dirinya, ia merasa iri dan berbuat dengki. Sebaliknya, saat ia menemukan orang yang ia rasa lebih rendah darinya, ia merasa tinggi
hati dan merendahkan orang lain. Sombong merupakan sikap tercela yang harus kita jauhi. Selain mencela sikap sombong, Allah Swt. juga memberikan anjuran kepada kita untuk bersikap tawadu. Salah satu anjuran Allah Swt. itu terdapat dalam Surah Luqman [31] ayat 19.
Waqsid fi masyyika wagdud min sautik(a), inna ankaral-aswati lasautul hamir(i)..
Artinya: Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (Q.S.Lugman [31]: 19)
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lain juga banyak ditemukan perintah untuk merendahkan diri. Kita dianjurkan untuk bertawadu dan menjauhi sikap sombong, meskipun memiliki harta kekayaan, keturunan, atau kedudukan yang tinggi (Husaini A. Majid Hasyim. 2005. Halaman 415).
Contoh perilaku tawadu dapat ditemukan dalam uraian berikut.
Ahmad seorang anak yang cerdas dan senantiasa menjadi juara kelas. Ahmad tidak merasa sombong atau tinggi hati karena kecerdasannya. Ia senantiasa membantu teman-temannya dengan belajar kelompok. Ia merasa bahwa kecerdasannya merupakan karunia Allah Swt. yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Sikap Ahmad dikategorikan sebagai perilaku tawadu. Ia tidak merasa sombong atas karunia kecerdasan. Justru ia merasa bahwa ilmu dan kecerdasannya belum apa-apa dibanding ilmu Allah Swt. Oleh karena itu, ia tidak tinggi hati dan memanfaatkan kecerdasannya untuk membantu teman-temannya.
2.Berperilaku Tawadu dalam Keseharian
Sebagai sikap yang baik, sikap tawadu tentu juga membawa akibat
yang baik. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh Baihaqi yang artinya, ”Barang siapa bersikap tawadu karena mencari rida Allah Swt. Allah akan meninggikan derajatnya. Ia akan menganggap dirinya tiada berharga namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Sebaliknya, barang siapa menyombongkan diri, Allah akan menghinakan dirinya. Ia menganggap dirinya
terhormat padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina . . . .”
Tawadu merupakan perilaku terpuji yang harus diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Tawadu akan muncul dengan membiasakan
perilaku-perilaku terpuji. Di antara perilaku terpuji yang dapat
menimbulkan tawadu sebagai berikut.
a.Menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan.
b.Merasa cukup dengan karunia Allah Swt.
c.Menyadari bahwa hanya Allah Swt. yang pantas untuk sombong.
d.Menyadari kelemahan manusia.
B.Taat
1.Pengertian dan Contoh Taat
Kata taat berasal dari bahasa Arab Ta’at. Kata ini memiliki makna
. mengikuti atau menuruti. Secara istilah taat berarti mengikuti dan
menuruti keinginan atau perintah dari luar diri kita. Dengan kata lain, taat artinya tunduk, patuh saat kita mendapat perintah atau larangan untuk dihindari.
Contoh perilaku taat dapat ditemukan dalam uraian berikut. Zahra
duduk di kelas VII SMP Bina Mulia. Sebagai seorang muslim, Zahra menunaikan salat tepat waktu, menunaikan puasa Ramadan, dan puasa sunah. Tidak lupa setiap hari Jumat Zahra memiliki agenda rutin yaitu bersedekah. Zahra melakukannya dengan ikhlas tanpa menginginkan pujian dari teman atau orang
tuanya.
Sikap yang ditunjukkan oleh Zahra termasuk kategori perilaku taat.
Zahra menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya. Perilaku Zahra
hendaknya diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara menerapkan perilaku taat dalam keseharian? Simaklah uraian berikut untuk mengetahuinya.
2.Berperilaku Taat dalam Keseharian
Memiliki sifat taat akan memberikan akibat yang baik bagi pemiliknya. Jika setiap orang telah memahami maksud sikap ini, ia akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dapat dipastikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara akan berjalan dengan harmonis.
Dalam Islam terdapat tiga tingkatan objek ketaatan. Ketiganya adalah Allah Swt., Rasulullah saw., dan ulil amri. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an
-Surah an-Nisa’ [4] ayat 59.
- - - - -
Ya ayyuhal-lazina amanu ati‘ullaha wa ati‘ur-rasula wa ulil-amri minkum
. .
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul -(Muhammad saw), dan ulil amri di antara kamu . . .
(Q.S. an-Nisa’[4]: 59)
Dalam ayat di atas dengan jelas Allah Swt. memberitahukan tiga objek ketaatan manusia. Islam menuntut untuk ketaatan kepada ketiganya dengan model yang berbeda. Penerapan ketaatan dalam kehidupan dapat dilakukan dengan mengacu pada kandungan ayat di atas.
a.Ketaatan kepada Allah Swt.
Ketaatan kepada Allah menempati posisi ketaatan tertinggi.
Sebagai seorang muslim, tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mengalahkan ketaatan kita kepada Allah Swt. Saat Allah Swt. menginginkan sesuatu dari kita, kita harus menaati-Nya. Inilah makna keislaman kita kepada Allah Swt. Menunaikan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya merupakan cara
menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt. Misalnya, menunaikan
salat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.
b.Ketaatan kepada Nabi Muhammad saw.
Ketaatan kepada rasul memiliki posisi sejajar dengan ketaatan
kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Hal ini karena apa pun yang
disampaikan, dilakukan, serta diinginkan Rasulullah saw. merupakan wahyu dari Allah Swt. Pada saat yang sama, Allah Swt. senantiasa menjaga kehidupan rasul berikut segala gerak-gerik yang dilakukan beliau. Sedikit saja beliau bergeser dari kebenaran, Allah Swt. segera mengingatkannya. Dengan adanya penjagaan Allah Swt. ini Rasulullah menjadi seorang yang maksum atau terjaga dari kesalahan. Dengan kedudukannya yang sedemikian istimewa, Allah Swt. menempatkan Rasulullah saw. dalam posisi yang terhormat dalam ketaatan seorang muslim. Allah menyatakan bahwa menaati Rasulullah sama dengan menaati Allah Swt. Dengan demikian, ketaatan kepada Rasulullah saw. merupakan prioritas yang sama dengan ketaatan kepada Allah Swt. Meskipun begitu, kita tidak boleh menganggap Rasulullah saw. sejajar dengan kedudukan Allah Swt. sebagai Tuhan. Menyamakan Rasulullah saw. dengan Allah Swt.
sebagai Tuhan merupakan tindakan kemusyrikan karena Rasulullah
hanyalah manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah Swt. Menaati
perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya berarti menaati rasulNya. Hal ini karena perintah rasul berarti perintah Allah Swt.
c.Ketaatan kepada Ulil Amri
Ketaatan tingkat ketiga adalah taat kepada ulil amri. Sebagian
ulama menafsirkan kata ulil amri di sini terbatas pada pemerintah di negara kita berada. Oleh karena itu, kita juga harus taat pada berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Semua peraturan itu disusun untuk menjaga keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagian ulama yang lain meluaskan makna ulil amri ini. Mereka tidak membatasi makna ulil amri sebatas pemerintah saja, tetapi segala hal atau aturan atau sistem yang ada di sekitar dan terkait dengan kita. Oleh karena itu, taat kepada ulil amri dapat diartikan sebagai taat pada orang tua, taat pada aturan masyarakat, taat pada norma yang berlaku hingga taat pada janji kita kepada teman. Ketaatan kepada ulil amri ini ada syarat-syarat tertentu. Syarat tertentu itu adalah tidak boleh bertentangan dengan aturan Allah Swt. dan rasul-Nya. Ketika bertentangan dengan aturan Allah Swt. dan rasul-Nya, perintah ulil amri harus kita tinggalkan. Kita juga dianjurkan untuk bersikap taat kepada guru. Ketaatan kepada guru ditunjukkan dengan mematuhi perintahnya, menghormati, dan bersikap peduli. Kita patuhi perintah dan tugas yang guru berikan kepada kita, baik itu tugas sekolah maupun tugas luar.Kita juga wajib menghormatinya, misalnya dengan berkata dan bersikap sopan kepadanya. Sikap peduli kepada guru dapat ditunjukkan dengan selalu mengingat jasa baiknya, mendoakannya,
dan berbuat sesuatu yang menyenangkan hatinya.
C.Qanaah
1.Pengertian dan Contoh Qanaah
Qanaah merupakan sikap rela menerima atau merasa cukup dengan apa yang didapat serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan. Qanaah muncul dalam kehidupan seseorang berupa sikap rela menerima keputusan Allah Swt. yang berlaku bagi dirinya. Sikap ini muncul bukan dari sikap pasif menunggu tanpa berbuat yang terbaik. Sikap ini muncul dari keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. setelah berusaha sebaik mungkin. Orang yang memiliki sikap qanaah sadar bahwa untuk mencapai suatu keinginan, harus dilakukan dengan usaha. Usaha yang dilakukan
pun bukan sekadar berusaha tanpa perencanaan dan kesungguhan. Ketika hasil dari usaha tersebut belum sesuai dengan keinginan, orang yang qanaah menerimanya dengan ikhlas, rida, dan lapang dada.
Misalnya, ketika menghadapi ulangan kalian telah belajar sungguh-
sungguh dan berdoa serta bertawakal kepada Allah Swt. Akan tetapi, hasil ulangan tersebut tidak sesuai dengan keinginan. Kita harus menerimanya dengan ikhlas. Sikap qanaah terkait erat dengan sikap syukur kepada Allah Swt. Perbedaannya sikap qanaah lebih menekankan rasa rela menerima
ketentuan Allah swt, sementara syukur lebih menekankan rasa terima kasih dan harapan kepada Allah Swt. Kedua sikap ini berjalan beriringan dalam setiap kejadian. Misalnya dalam masalah rezeki. Perbedaan dalam masalah rezeki menuntut setiap orang untuk melatih sikap qanaah dan sekaligus syukur. Bagi mereka yang berlapang rezeki, sikap qanaah ditunjukkan dengan hidup sederhana dan bersyukur dengan cara berbagi karunia Allah Swt. kepada saudara yang masih kekurangan. Bagi mereka yang bersempit rezeki, sikap qanaah muncul dengan rasa rela menerima keadaan yang diberikan Allah Swt. dan bersyukur dengan berusaha lebih keras lagi menyongsong karunia-Nya. Contoh qanaah dapat ditemukan dalam uraian berikut. Arif hendak mengikuti lomba badminton antarsekolah. Oleh karena itu, ia berlatih keras dan tidak lupa memohon keberhasilan usahanya. Sewaktu pertandingan berlangsung Arif berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingan. Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya, tetapi apa daya dia harus kalah. Kekalahan tersebut diterima dengan lapang dada dan ikhlas.
2.Berperilaku Qanaah dalam Keseharian
Perilaku qanaah harus diteladani kemudian diterapkan dalam
kehidupan. Qanaah merupakan perilaku terpuji yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan. Perilaku qanaah dapat diterapkan dengan melakukan hal-hal berikut.
a.Bersyukur terhadap nikmat Allah Swt.
b.Berusaha sekuat tenaga untuk menggapai keinginan.
c.Menerima ketentuan Allah Swt. dengan ikhlas setelah usaha dilakukan dengan maksimal.
d.Mengingat dan memikirkan nikmat yang dikaruniakan Allah Swt.
kepada kita.
Perilaku qanaah akan membawa kita mudah meraih kesuksesan.
Orang yang qanaah bersikap wajar dalam menghadapi sesuatu, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Ia tidak mau larut dalam kesedihan ataupun lalai dalam kegembiraan. Berperilaku qanaah dalam
keseharian perlu diterapkan pada saat mendapatkan rezeki, ditimpa musibah, meraih prestasi, atau mendapatkan kegagalan.
D.Sabar
1.Pengertian dan Contoh Sabar
Sabar artinya menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan,
baik dalam menemukan sesuatu yang tidak dingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Menurut al-Gazali, sabar berarti suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama. Kesabaran mutlak diperlukan dalam menghadapi kehidupan di dunia. Hal ini karena hidup tidak lepas dari kenyataan bahwa setiap orang selalu bersenTuhan dengan nikmat dan cobaan dalam menjalani kehidupan di dunia. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai keadaan yang menuntut kita bersikap dengan tepat. Adakalanya kita dihadapkan dengan masalah hidup. Sakit yang tidak kunjung sembuh, ingin sepeda motor tetapi tidak memiliki cukup uang untuk membelinya, atau masalah lain yang tidak mengenakkan hati. Adakalanya pula kita
dihadapkan pada beratnya ketaatan kepada Allah Swt. Misalnya, saat terlelap tidur harus bangun untuk salat Subuh. Semua keadaan ini menuntut sikap yang tepat untuk menghadapinya.
2.Berperilaku Sabar dalam Keseharian
Sabar merupakan perilaku terpuji yang harus diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Penerapan perilaku sabar dalam kehidupan
menyangkut dua hal sebagai berikut.
a.Sabar dalam Menghadapi Cobaan Hidup
Kata cobaan hidup sering ditujukan pada kondisi saat kita merasa
tidak nyaman dengan kondisi itu. Cobaan yang datang bisa berupa
bencana banjir, tanah longsor, sakit, kematian, kemiskinan, dan
beberapa contoh lainnya. Dalam keadaan seperti ini, kesabaran
merupakan kunci untuk menghadapinya. Berkaitan dengan perilaku
sabar Allah Swt. berfirman seperti berikut.
Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-ju’i wa naqsim
minal-amwali wal-anfusi was-samarat(i), wa basysyiris-sabirin(a).
Allazina iza asabathum musibah(tun), qalu inna lillahi wa inna ilaihi
raji‘un(a).
Artinya: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
berkata ”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami
milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (Q.S. al-Baqarah
[2]: 155–156)
b.Sabar dalam Menjalankan Ketaatan kepada Allah Swt.
Melaksanakan perintah Allah Swt. dan rasul-Nya bukan hal yang
mudah dan di sinilah kesabaran diperlukan. Misalnya, untuk
menjalankan perintah zakat kita harus bersabar karena godaan untuk tidak mengeluarkan harta dan berbagi dengan orang lain akan muncul. Selain dalam menjalankan perintah Allah Swt., kita harus sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan. Kemaksiatan sering muncul sebagai kenikmatan dunia dan tidak jarang kita tergoda untuk mencicipinya. Padahal di balik maksiat itu terdapat bahaya yang mengancam kebaikan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, Allah Swt. melarang kita berbuat maksiat. Di sinilah kesabaran diperlukan.

1.Tawadu artinya sikap rendah hati. Tawadu merupakan sikap seseorang yang tidak
ingin menonjolkan diri dengan sesuatu yang ada pada dirinya.
2.Taat secara bahasa berarti mengikuti atau menuruti.
3.Tiga objek ketaatan dalam Islam sebagai berikut.
a.Ketaatan kepada Allah Swt.
b.Keta

8.AYAT TENTANG TAAT


PENGERTIAN TAAT

Taat secara bahasa artinya senantiasa tunduk dan patuh. Secara istilah taat adalah tunduk dan patuh, baik terhadap perintah Allah Swt, Rasul-Nya, maupun ulil amri (pemimpin). Perilaku taat ini mungkin sering kita langgar, contoh sederhana apakah kita sudah melakukan shalat 5 fardhu?, apakah kita sudah taat kepada Allah?, bahkan terkadang mungkin kita juga masih belum taat terhadap diri sendiri.




Q.S. An - Nisa [4] : 59

Artinya :
”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” ( Q.S. An - Nisa [4] : 59 ).

Sudah dijelaskan dari ayat tersebut bahwa taat dibagi menjadi 3.

1. Taat Kepada Allah S.W.T.

Taat kepada Allah S.W.T yaitu taat menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Berikut Firman Allah S.W.T :

Q.S. Ali Imran [3] : 32
Artinya :
"Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguh­nya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir." ( Q.S. Ali Imran [3] : 32 ).

2. Taat Kepada Rasul-Nya

Taat kepada Rasul yaitu setiap muslimin harus melaksanakan ajaran - ajaran yang terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW.

Q.S. At - Tagabun [64] : 12
Artinya :
Dan ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. ( Q.S. At - Tagabun [64] : 12 ).

3. Taat Kepada Ulil Amri ( Pemimpin )

Taat kepada Ulil Amri berarti setiap  umat muslim harus taat terhadap setiap pemimpinnya masing - masing selama masih dalam jalur kebenaran dan diridhai Allah SWT dan tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Contoh Perilaku Taat
  • Melaksanakan rukun iman.
  • Melaksanakan rukun islam.
  • Patuh terhadap segala perintah Allah S.W.T.
  • Patuh terhadap orang tua.
  • Patuh terhadap aturan - aturan atau hukum yang berlaku sesuai pemimpin atau daerah masing - masing.





9.SIKAP SABAR DAN IKLAS

Berikut beberapa bentuk sikap sabar dan ikhlas:

  1. Jadikan setiap permasalahan hidup sebagai tantangan dan ajang ujian kenaikan kelas. Allah swt sedang mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih layak untuk menduduki posisi sosial yang lebih baik.
  2. Yakinilah bahwa kita sanggup untuk menghadapi sekaligus menyelesaikan setiap permasalahan. Bukankah Allah SWT telah berjanji tidak akan membebani permasalahan yang tidak sanggup kita pikul.
  3. Terimalah segala takdir dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, tentunya dengan tidak henti-hentinya berikhtiar, kewajiban kita hanyalah berusaha, hasil akhir, Allah SWT yang menentukan karena sang Maha Kuasa mengetahui secara pasti apa yang terbaik buat makhluknya.
  4. Selalu berfikiran dan bersikap positif dalam memandang segala permasalahan. Jika kita memancarkan energi positif maka lingkungan pun akan memberikan feedback positif kepada kita.
  5. Berdo’a-lah agar kita diberikan kesabaran dan kekuatan untuk bisa memikul sebesar-besarnya masalah dari pada terus-terusan meminta untuk dijauhkan dari masalah. Semakin kita terampil memecahkan permasalahan besar, semakin tinggi kualitas pribadi kita.

Perlu di ingat, kesabaran bukan berarti sikap diam dan menyerah, kesabaran merupakan bentuk manifestasi dari sikap tawaqal, ridlo dan justru pantang menyerah, Selama kita masih hidup selama itu pulalah kita harus bersabar dan ikhlas, batas kesabaran adalah sampai ke liang lahat. 

Rabu, 29 Maret 2017

10. PESAN NABI MUHAMMAD

PESAN NABI MUHAMAMAT SAW
Beliaati Allah (SWT), Dia akan memelihara keselamatan hidupmu, harta-bendamu, dan kehormatanmu sampai tiba saatnya Dia memanggilmu kembali kepada-Nya.”
Sampai disini, Nabi (SAW) bertanya kepada para jamaah, “Sudahkah aku tunaikan tugasku sebagai pembawa risalah kepada kalian? Wahai Allah, sudakah aku tunaikan tugas yang telah Engkau amanatkan kepadaku?” Semua yang hadir serentak menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menunaikan tugas risalahmu kepada kami.”
Rasuullah (SAW) melanjutkan, “Lakukan apa yang aku wasiatkan kepada kalian. Aku minta kalian mengembalikan harta orang-orang yang dititipkan kepadamu dalam bentuk aslinya dan janganlah kalian secara sengaja mengkhianati amanat yang diserahkan kepada kalian. Janganlah kalian memberlakukan riba. Islam mengharamkan pungutan riba (bunga) yang dikenakan atas beda waktu pembayaran. Namun tidak mengapa bagi kalian untuk menerima pengembalian nilai okoknya.
Hanyalah riba yang diharamkan oleh Allah (SWT). Maka dari itu, aku tegaskan disini bahwa riba yang seharusnya diterima oleh pamanku Abbas (RA) ditiadakan dan menjadi kosong nilainya.”
“Camkanlah! Bahwa jika seseorang membunuh orang lain, maka si pembunuh haruslah diganjar hukuman mati. Namun, bila pembunuhan itu terjadi tanpa kesengajaan (berniat untuk) membunuh maka si pembunuh wajib membayar denda sejumlah seratus ekor onta.
Belia (SAW) melanjutkan, “Setan menjadi sangat berang mengetahui bahwa tak seorangpun yang tersisa lagi di tanah kalian, yang bersedia mendengar bisikannya, apalagi bersedia mengikuti ajakannya. Namun janganlah kalian lupa, setan akan selalu membuntuti kalian sepanjang waktu. Setan akan selalu berusaha membelokkan jalanmu menuju ararus selalu waspada untuk melindungi diri kalian sendiri dari setan. Bahkan kalian harus tetap waspada dalam urusan sekecil apapun, agar setan tak berpeluang melibatkan dirinya didalam urusanmu yang sepele, dalam rangka menghancurkan pijakan kalian dalam beragama.”
“Dengarlah, jangan berusaha memasukkan bulan biasa kedalam bulan suci. Hal itu tergolong bid’ah. Bulan-bulan Islam adalah sebagaimana yang telah Allah (SWT) sebutkan didalam Al-Quran. Ada dua-belas bulan didalam satu tahun, empat diantaranya adalah bulan-bulan suci, yakni bulan Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijah dan Muharram.”
“Sekarang, aku hendak menasehati kamu semua perihal perempuan (istri-istri)-mu. Mereka mempunyai hak atas diri kalian dan kalian pun memiliki hak atas mereka. Menjadi tugas kalianlah untuk melindungi kehormatan kalian dan tidak mengijinkan masuk ke dalam rumahmu orang-orang yang tak kamu sukai. Bilamana istri-istrimu tidak seksama dalam memenuhi kewajiban mereka terhadapmu, diperbolehkan bagimu memukulnya secara perlahan, bukan pukulan keras yang menyakitinya. Dan bila mereka telah memenuhi kewajibannya terhadap kalian secara patut, kalian wajib mencukupi mereka dengan makanan yang baik dan pakaian yang pantas. Aku nasehatkan kepada kalian, berlakulah lemah-lembut terhadap istri-istri kalian dan berbaik-hatilah serta penuh kasih-sayang terhadap mereka. Mereka adalah amanat Allah (SWT) kepada dirimu dan kamu diijinkan menikahi mereka sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah (SWT). Sekali lagi aku tegaskan, berhati-hatilah terhadap Allah (SWT) dan berlaku lembutlah terhadap istri-istri kalian. ”
Sampai disini, Nabi (SAW) bertanya,” Sudahkah aku tunaikan tugasku sebagai pembawa risalah kepada kalian? Wahai Allah, sudahkah aku tunaikan tugas yang telah Engkau amanatkan kepadaku?” Semua yang hadir pun serentak menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menunaikan tugas risalahmu kepada kami.”
Beliau pun melanjutkan, “Simaklah baik-baik. Setiap Mukmin bersaudara sutu dengan yang lain didalam Islam. Berlakulah saling menghormati dan melindungi harta sesama kalian. Seorang mukmin diharamkan mengambil harta yang lain tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada pemiliknya. Perhatikanlah, janganlah kalian saling bunuh-membunuh sepeninggalku. Berpegang-teguhlah kalian semua pada tali Ukhuwah Islamiyah. Aku harus meninggalkan dunia ini, dan aku tinggalkan kepada kalian Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku sebagai pedoman bagi kalian. Dengan berpegang pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat.
“Dengarlah, Tuhan kalian adalah satu dan leluhur kalian pun satu. Kalian semua adalah anak-cucu Adam (AS). Sedangkan Adam (AS) telah diciptakan-Nya dari tanah. Maka, kalian semua pun juga sama-sama berasal dari tanah, maka tak seorang pun dari kalian lebih unggul/utama dari pada yang lain. Sesungguhnya, yang lebih utama diantara kalian dalam pandangan Allah (SWT) adalah yang paling taqwa kepada-Nya. Dengan demikian tak seorang Arab pun yang boleh mengaku bahwa dirinya lebih utama daripada yang bukan orang Arab. Keutamaan seseorang diukur dari ketaatannya dan besarnya rasa takutnya kepada Tuhan.”
Sampai disini Rasulullah (SAW) kembali mengulang pertanyaan yang sama, apakah beliau telah menyampaikan risalah kepada mereka, dan para jamaah pun serempak memberikan jawaban yang sama pula, bahwa beliau (SAW) telah menyampaikan semuanya kepada mereka.
Selanjutnya, Nabi (SAW) menambahkan, “Aku minta kepada kalian yang hari ini menyimak pesan-pesanku agar menyampaikan pesan-pesan ini kepada mereka yang pada hari ini tidak hadir disini, dengan demikian maka pesan-pesanku ini akan sampai kepada seluruh Ummat Muslim.” “Wahai saudara-saudaraku dalam Islam yang kucintai, Allah (SWT) telah menetapkan bagian warisan yang berhak diterima oleh setiap ahli waris. Maka, janganlah kalian membuat wasiat untuk bagian orang lain yang lebih besar dari bagian yang diterima oleh para ahli waris, yang mana Allah (SWT) telah menetapkan besarannya. Jika kamu ingin mewasiatkan harta kepada seorang asing, yang bisa saja tak memiliki hubungan kekerabatan dengan mu, janganlah bagian untuknya melebihi dari sepertiga dari nilai harta (warisan)-mu.”
Rasulullah (SAW) menutup khutbah beliau dengan Assalaamu’alaikum (semoga Allah (SWT) melimpahkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan atas diri kamu sekalian). Sesudah Rasulullah (SAW) menutup khutbah beliau, Allah (SWT) pun menurunkan wahyu-Nya. Wahyu itu adalah ayat ke-3 dari
(Surah Al-Ma’idah)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Iklan

11. CARA MENJADI PEMIMPIN YANG TAAT

Kawan,
Menjadi seorang pemimpin itu susah – susah gampang, jadi karena susahnya dua dan gampangnya satu, maka kesimpulannya jadi pemimpin ya memang susah. Ini karena ucapan juga tindakan menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan dikendalikan. Apalagi di zaman yang serba cepat dan musim pemilu seperti sekarang ini. Anda salah ucap, maka hujatan siap menyergap.
Jujur saja kawan. Kalau kata orang batak bilang sih “ngeri – ngeri sedap” saya melihat polemik yang terjadi belakangan ini. Seorang pemimpin dan calon gubernur mengatakan hal yang menjadi viral seminggu terakhir ini. Sebuah statement yang buat geger baik dunia nyata maupun maya. Entah sebuah kesengajaan atau tidak. Tetapi yang jelas suasana mendadak gaduh setelah kita melihat teduhnya suasana tiga paslon(pasangan calon) selfie bareng dengan senyum mengembang.

Kawan,
Terlepas siapa, bagaimana dan untuk apa kontoversi ini dilontarkan, apakah kita harus membalasnya dengan hujatan? Benar, tidak ada yang lebih kuat selain persaudaraan seiman. Saya juga sangat setuju dan merasa marah jika ada yang menghina diri kita apalagi menghina keyakinan kita. Karena bangsa ini juga berdiri diatas Pancasila yang membebaskan setiap warga negaranya untuk memeluk keyakinan dan menjalankannya termasuk membelanya.
Namun kawan,
Bukankah api tidak bisa dipadamkan dengan api? Saya tidak ingin mengatakan mereka yang menghujat salah, karena bisa jadi saya yang salah. Namun untuk urusan agama dan keyakinan sudah sepatutnya kita berkaca pada sang pembawa risalah? Seseorang yang perkataannya tidak pernah mendustai perbuatannya. Seseorang yang bahkan malaikat menaruh hormat padanya. Seseorang yang langkah kakinya selalu berjalan dalam kebenaran. Ya, beliaulah nabi Muhammad SAW, manusia terpuji yang seharusnya kita jadikan teladan dalam bertutur dan bertindak. Bukan satu atau dua kawan, tetapi terlalu banyak contoh yang diberikan Rasulullah kepada kita tentang cara menyikapi hinaan dan cacian. Saya hanya ingin mengingatkan bukan bermaksud untuk membenarkan apalagi menyalahkan. Karena salah juga lupa adalah tabiat manusia. Termasuk saya.

Kawan,
Tidak ingatkah kalian saat masyarakat Thaif mencaci, memaki bahkan melempari manusia mulia (Muhammad SAW) dengan batu hingga beliau terluka parah. Sampai - sampai Jibril AS, penghulu para malaikat, teman setia dalam berdakwah murka hingga ingin membinasakan masyarakat Thaif dengan membalikan gunung. Namun Rasulullah SAW justru berkata, “jangan! Mereka hanya belum tahu, semoga dari keturunan mereka kelak akan lahir pembela – pembela agama Allah SWT”. Ingatkah kalian kawan? Rasulullah SAW membalas hinaan dengan do’a. Do’a  kawan! Bukan tuduhan apalagi hujatan.
Kawan,
Lalu lupakah kalian? Satu kisah yang begitu mengharukan, kisah antara Muhammad SAW dengan seorang pengemis yahudi buta. Dimana dalam kebutaannya, pengemis yahudi itu terus mencaci, memaki bahkan menuduh Rasulullah SAW gila. Namun apa yang dilakukan manusia paling mulia ini kawa? Manusia yang bahkan dalam setiap langkah kakinya dirindukan oleh buminya Allah SWT. Beliau membalas cacian, makian juga tuduhan keji kepada beliau dengan kasih cinta. Setiap harinya beliau selalu menghampiri sang pengemis yahudi tersebut untuk menyuapi sang pengemis, di tengah caci maki pengemis yahudi beliau tetap teguh pada kasih cintanya untuk meyuapi pengemis yahudi itu. Hingga Rasulullah SAW wafat sang pengemis yahudi tidak pernah tahu siapa sesungguhnya orang yang rela dengan penuh cinta setiap harinya menyuapi dirinya. Tiba satu hari saat khalifah Abu Bakar bermaksud untuk menggantikan Rasulullah SAW untuk menyuapi pengemis yahudi itu, namun pengemis yahudi itu tahu bahwa hari itu yang datang bukanlah orang yang biasa menyuapinya. Maka Abu Bakar RA pun berterus terang bahwa dia bukanlah orang yang biasa menyuapinya, bahwa yang setiap hari menyuapinya dengan penuh cinta  adalah Muhammad SAW. Seseorang yang selama ini dia hina, dia caci maki bahkan dia tuduh gila. Mendengar pengakuan khalifah Abu Bakar RA sang pengemis yahudi buta itu bersahadat di depan tangisan Abu Bakar. Abu Bakar RA menjadi saksi turunnya hidayah Allah SWT kepada sang pengemis yahudi buta atas kasih sayang Rasulullah SAW kepada semua makhluk Allah SWT. Kawan, dengan kasih sayang beliau membalas sebuah cacian, hinaan juga tuduhan keji bukan dengan hujatan.
Kawan, masih banyak lagi sikap manusia paling terpuji dibumi ini yang layak dan sudah sepatutnya kita jadikan contoh dalam bersikap.

Kawan,
Bukan untuk bermaksud mengajari ikan berenang ataupun mengajari burung untuk terbang. Namun sebagai muslim yang taat dan keyakinan teguh pada Agama Allah SWT sudah seyognyalah kita berkaca pada Nabi Muhammad SAW. Marilah kita berjabat hati agar polemik ini tidak menjurus pada perpecahan yang nyata. Tunjukan kita (muslim) adalah umat yang mulia.

12. HUJATAN KAWAN

CARA NABI MUHAMMAD MENGHADAPI HINAAN DAN HUJATAN..


Jika hinaan dibalas dengan hujatan, lalu apa bedanya antara orang yang dihina dan orang yang menghujat. Reaksi yang berlebihan terhadap penghinaan akan membuat stigma yang lebih buruk terhadap umat Islam. Jika stigma kekerasan itu mencuat, yang bertepuk tangan adalah para provokator yang tidak senang dengan perdamaian.
Tidak sedikit orang yang menginginkan terciptanya permusuhan antara umat beragama. Daripada membalas hujatan dengan kecaman atau bahkan dengan pembunuhan akan lebih baik jika kita mengajak berdialog orang yang melakukan penghinaan. Dalam dialog kita bisa memperkenalkan pribadi Muhammad yang sesungguhnya.

Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia seperti yang tertera dalam Alquran surat Fushshilat (41): 34.
Kita tentu tidak bisa membiarkan begitu saja orang-orang yang hendak memadamkan cahaya Allah. Jika dibiarkan begitu saja, perbuatan mereka makin menjadi-jadi. Kita mesti berbicara dan bertindak. Namun sebelum tindakan tegas dilakukan kita mesti mengedepankan tindakan persuasif.

Jika tindakan persuasif tidak juga mampu meredam kelakuan mereka, barulah kita bertindak tegas kepada mereka. Ada dua kasus di mana sahabat Nabi membunuh orang Yahudi yang terus menerus melontarkan penghinaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Tindakan tegas tersebut dilakukan karena para sahabat Nabi berpikir jika penghinaan tersebut terus-menerus dibiarkan begitu saja, bukan mustahil mereka akan mencari jalan untuk membunuh Nabi Muhammad seperti yang telah dilakukan nenek moyang mereka terhadap para Nabi dan Rasul Allah.
Nabi Muhammad sebagai sosok yang berkpribadian mulia menginginkan umatnya memiliki akhlak yang mulia pula. Banyak sekali hujatan dan penganiayaan yang beliau terima, tapi Nabi Muhammad mampu mengatasinya tanpa harus kehilangan kemuliaannya.

➨ CONTOH NABI 1
 Malaikat Jibril segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad. "Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi."
Bukan hanya kita yang sedih mendengar kisah ini, Jibril pun harus turun tangan melihat Nabi Muhammad dihina dan dianiaya begitu rupa. Namun, apa kata Nabi Muhammad.
"Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku." Dan doa beliau pun terkabul. Banyak di antara penduduk Thoif di kemudian hari yang menjadi ulama penerus risalah Nabi Muhammad. Begitu mulianya akhlak Rasulullah terhadap orang-orang yang menghina dan menganiayanya. Dan beliau pun ingin umatnya mewarisi akhlak mulia tersebut.


➨CONTOH NABI 2
Suatu hari orang tersebut jatuh sakit. Ketika Nabi Muhammad melewati rumah itu, ia heran dan bertanya-tanya ke mana orang yang biasanya melemparinya. Setelah diketahuinya orang tersebut sedang sakit, Nabi Muhammad pun mengunjunginya.
Orang tadi seakan tidak percaya jika Muhammad yang selama ini ia caci maki dan ia lempari dengan batu dan kotoran masih mau menengoknya di kala sakit, saat orang lain tidak memedulikannya. Ia pun menangis di hadapan Nabi Muhammad dan saat itu pula ia mengakui kemuliaan Nabi Muhammad dan mengucapkan syahadat.
Nabi Muhammad dengan baik sekali mencontohkan apa yang tertera dalam Alquran, Surat Fushshilat Ayat (34): Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.


➨CONTOH NABI 3
h bapaknya dengan tangannya. Putranya itu mengemukakan alasan bahwa jika orang lain yang membunuh bapaknya, ia tidak rela, malah mungkin akan membalas dendam terhadap pelaku tersebut. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab terbiasa melakukan balas dendam atas ejekan yang dilontarkan pada mereka atau keluarganya tanpa melihat besar kecilnya cemoohan itu.
Tradisi itulah yang dimaksudkan putra Abdullah bin Ubay tersebut. Namun, Rasulullah saw., tidak mengabulkan permintaannya dan juga tidak memperkenankan yang lain menghukum si munafik Abdullah bin Ubay tersebut dengan cara apa pun. Sekembalinya Abdullah bin Ubay ke Madinah, ia tetap dibiarkan hidup sampai akhir hayatnya. Ketika ia kemudian meninggal secara wajar, betapa terkejutnya orang-orang ketika Rasulullah saw., memberikan baju beliau sendiri kepada putra Abdullah untuk mengafani jenazah ayahnya yang dahulu pernah memfitnahnya. Apa yang dilakukan Rasulullah merupakan suatu pelajaran bagi kita bagaimana menghadapi orang yang menghujat kita dan beliau. Alquran pun memberikan pelajaran, Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (Qs.Al Mukminuun (23): 96).

Rabu, 15 Maret 2017

13. CARA MENGHADAPI CACIAN

Cara Menghadapi Cacian, Hinaan dan Olok-Olok Orang Lain

Bagaimana menghadapi kritik, caci-maki dan penghinaan orang? Jawabannya adalah "Woles". Jika niat kita baik maka tetapkan niat tersebut dan komitmenkan didalam melakukan perbuatan yang diniatkan dengan baik. Namun sebagian besar manusia menghadapi kritik, caci-maki, dan penghinaan dengan emosi. Hal inilah yang menyebabkan melambatnya kedewasaan..


Terimalah kritikan itu dengan legowo jikalau memang kritikan tersebut sifatnya membangun. Kadangkala kritik membangun disampaikan dengan bahasa yang keras, terima saja walaupun sedikit menyakitkan. Siapa tahu ada kebaikan dan keajaiban yang bisa kita ambil saat ini, atau suatu saat kelak. Kecuali disampaikan dengan tidak baik, cenderung mengolok-olok dan berbau fitnah, maka jangan diterima. Hanya ikhlaskan saja tanpa perlu memperolok balik.



Contoh nyata bentuk kritkan, cacian dan penghinaan (dalam SMS gelap)


"Tidak tahu keadaan lagi kekurangan, dasar babx ngentoxx (binatang jorok)"

"Jaman Nabi tidak ada yang edan, jaman sekarang ada, yaitu kamu, dasar edan"



Itulah dua kritikan, cacian dan penghinaan yang terjadi secara real kepada saya. Tidak apa-apa, woles...


Saya yakin anda juga pernah mengalaminya dalam bentuk yang lain.


Masih banyak bentuk hinaan lainnya, berhubung saya adalah seorang leader kecil-kecilan baik di perusahaan maupun di komunitas sosial. Saya banyak menemukan hal ini...


Saran saya bagi anda yang menerima hinaan sbb
  • Tetap kalem, jangan mudah terprofokasi. Tetap lakukan apa yang menurut anda baik dan benar.
  • Tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak, sementara keputusan harus tetap diputuskan, maka putuskanlah dengan bijak.
  • Ikhlaskan mereka yang menghinamu, bisa jadi mereka terbawa suasana.
  • Tetap cool. Setelah tenang jika memungkinkan jelaskan kepada mereka, mengapa anda memutuskan sebuah keputusan yang menimbulkan pro dan kontra.


Saran saya bagi para pengkritik yang suka memberikan caci maki dan hinaan sbb
  • Mengapa anda suka mengolok-olok orang lain? Apakah anda merasa lebih pandai dan pintar? Jangan begitu, sampaikan pendapat anda dengan baik.
  • Tetap mengolok-olok orang lain adalah salah. Bisa jadi mereka yang diolok-olok lebih mulia dari anda.
  • Kalaupun mereka nampak belum pandai, bisa jadi mereka yang anda olok-olok sedang belajar mendewasa, dan pada titik tertentu lebih pandai dari anda.
  • Mungkin orang yang anda hina dan olok-olok memang nampak bodoh, tetapi menyampaikan sesuatu dengan kata-kata kasar dan jorok jauh lebih bodoh.
  • Pikirkan dulu sebelum menyampaikan sesuatu hal, bisa jadi malah akan berbalik kepada anda.


Terakhir simak firman Allah sebagai berikut,


Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri (baca: sesama saudara seiman) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (berbau kefasikan) sesudah seseorang beriman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujurat ayat 11) 


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat ayat 12)



Iklan
Magis7. Rahasia menguasai dan menciptakan rasa ikhlas (woles) dalam dada. Kalau mau belajar dengan saya klik disini. Kalau belum berkenan tidak apa-apa. Tetap woles.. :)

14. BERBAGAI CARA MENGHADAPI EJEKAN

Tanpa Emosi Ternyata Bisa Menghadapi Ejekan & Hinaan


Dalam kehidupan pasti sudah tidak asing kan dengan namanya ejekan? Ejekan biasanya dilakukan seseorang kepada orang lain atau suatu hal ketika ada seseorang atau hal lain yang dianggap aneh dan menurutnya lucu, tidak sesuai dan asing bagi dirinya.

Seseorang sering diejek, dihina bahkan “dijatuhkan” oleh orang lain karena orang lain menganggap kita memiliki suatu yang melekat di dirinya yang dianggap oleh orang lain tidak sesuai, misalnya dari segi bentuk fisik, perilaku, style, dan masih banyak hal lainnya.

Terkadang orang yang mengejek sering diluar batas kewajaran dan cenderung menyakitkan dan menjatuhkan orang lain secara kasar. Tapi tidak ada hal yang tidak bisa diatasi, temasuk menerima ejekan dari orang lain. Ejekan juga tidak harus disikapi dengan emosional tinggi (marah, dll) tapi kita harus membuat ejekan itu menjadi suatu seni, sepeti di bawah ini :
  • Jangan terpancing emosi ketika diejek oleh orang lain
Ketika kita diejek oleh orang lain, maka kita jangan terpancing emosi. Karena orang lain akan meneruskan ejekannya dikemudian hari, hal itu dianggap berhasil membuat kamu seolah-olah “ejekan itu sesuai” dengan pribadi kamu.

Contoh kasus :
Ketika ditempat umum kamu dijatuhkan oleh orang lain:
Eh kamu itu udah bau, jarang mandi, nggak pernah pakai minyak wangi, adudududu
Kamu jangan marah, respon aja gini :
Hahaha, gapapa dong, gue nggak mubadzirin semuanya, daripada kamu, sering mandi masih bau, sering pakai minyak masih bau, (posisi ini kamu sekarang malah diatas, dan orang yang ngehina kamu malah merasa terjatuhkan) hehehe

  • Jangan merasa minder dan merasa terpuruk
Ketika diejek kita jangan minder dan terpuruk, sekali lagi buat hal itu jadi seni dan dijalanin Have Fun aja

Contoh kasus :
Ketika kita diejek di depan teman-teman atau ketika maju ke forum didepan kelas, karena kekurangan kita atau kesalahan yang kita lakukan, janganlah grogi, minder yang membuat kamu jadi dalam keadaan terpuruk, tapi cukup kamu respon dengan senyum atau bilang saja itu sebagai intermezzo. Kalau kita merasa malu, pasti akan diejek terus menerus.

  • Ketika kita diejek, ambil celah, lalu respon balik, buat dia malu dengan kata ejekan yang dia lontarkan.
Contoh kasus :
Misalnya kita membeli barang :
Kamu : Mbak, ada Hp *** second?
Mbak : Ada mas (sambil menunjukkan hp nya)
Kamu : Kok hp nya udah banyak banget lecetnya mbak? Yang lain ada?
Mbak : (senyum sinis) nggak ada mas, kalau mau kualitas bagus ya beli baru aja (mencoba menjatuhkan kita).
Kamu : (jawab dengan gunakan kata2 mbak tadi) kalau saya mau beli baru, gengsi dong mbak beli disini
Mbak : $$$$$$$$$ 

Misalnya ketika dikampus atau dikelas, dihina fisik atau style kita
Temen : eh, gue pengen muntah
kamu : knp?
Temen : gara gara liat model rambut dan style loe hari ini
kamu : (kamu jangan malu dan merasa terjatuhkan, respon balik aja)kenapa? Gue manis banget yak kok loe mau muntah?
Temen : $(*)*$^^$&($(#&

Contoh kasus 2 :
Temen : muka lo hari ini kok jelek banget sih
Kamu: (Sambil ketawa), ia apa?
Temen : beneran suer!
kamu : gpp lah, Cuma hari ini gue jelek, daripada loe dari kemaren kemaren jelek terus
Temen : $^(%#((& 

  • Jangan merasa kita kalah, ketika kita diejek. Kalau kita merasa kalah, orang lain justru semakin melunjak dan semakin mengejek kita!
Contoh kasus :
Kasir Toko : eh mas, nggak ada kembaliannya 500 nih gmana?
Kamu : permen nggak ada mbak?
Kasir : abis mas, gimana nggak usah aja ya (suasana toko ramai) masa uang cuma 500 didebat sih mas(tertawa sinis)?(mencoba menjatuhkankamu)
Kamu : Owh ia juga mbak, masa uang 500 didebat? Kalau gitu kasih saya uang1000 aja mbak, dikasih lebih gapapa toh, masa uang segitu didebat?
Kasir : *&%&$^%%%#&&&

15. CONTOH HUJATAN


Contoh hujatan
BERIKUT CONTOH HUJATAN

Di sudut pasar di Kota Madinah ada seorang buta yang setiap harinya selalu meneriakkan Muhammad orang gila. Setiap hari ada orang yang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Suatu hari orang buta tersebut merasakan jika orang yang menyuapinya kali ini bukanlah oran yang biasa menyuapinya. 
Berkatalah orang buta dan tua itu, "Kau bukanlah orang yang biasanya menyuapiku, ke manakah gerangan orang yang biasa menyuapiku."

Orang yang ada di hadapannya bertanya, "Bagaimana kau tahu aku bukanlah orang yang biasa menyuapimu sedangkan engkau adalah orang yang tidak bisa melihat?"
Orang tua itu pun menerangkan, "Orang yang setiap harinya menyuapiku akan mengunyah makanan itu lebih dahulu sebelum memasukkan ke mulutku karena ia tahu gigiku sudah tidak kuat lagi mengunyah makanan."
Orang yang ada di hadapannya yang ternyata adalah Abu Bakar menahan tangis dan bertanya kembali, "Tahukah engkau siapa yang biasa menyuapimu setiap hari?"

..Orang tua dan buta itu pun menggelengkan kepala. Abu Bakar barkata, "Orang yang menyuapimu setiap hari adalah Muhammad yang biasa engkau caci maki dan sekarang ia telah tiada."
Betapa terkejutnya orang tua itu mengetahui akan hal itu. Ia pun tersungkur menangis dan seketika itu juga mengucapkan kalimat syahadat sebagai sebuah pengakuan atas ke-Esa-an Tuhan dan kemulian Muhammad.



1. CARA MENDIDIK ANAK ALA RASUL

1.  cara mendidik anak ala rasul saw Oleh : lauraimanda      Banyak orangtua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan agama pa...